Etika Bisnis Islami

A. Sudut Pandang Nilai Filosofis Etika:
1. Relativisme: Keputusan etis dibuat berdasarkan kepentingan pribadi dan kebutuhan pribadi.
2. Utilitarianisme (kalkulasi untung dan rugi): Keputusan etis dibuat berdasarkan hasil yang diberikan oleh keputusan-keputusan ini. Suatu tindakan disebut etis jika memberikan keuntungan terbesar bagi sejumlah besar orang.
3. Universalisme (Kewajiban): Keputusan etis yang menekankan maksud suatu tindakan atau keputusan. Keputusan yang sama harus dibuat oleh setiap orang di bawah kondisi yang sama.
4. Hak (Kepentingan individu) : Keputusan etika yang menekankan nilai-nilai individu, kebebasan untuk memilih.
5. Keadilan Distributuf (Keadilan dan Kesetaraan) : Keputusan etika yang menekankan nilai-nilai individu, keadilan dan menegaskan pembagian yang adil atas kekayaan dan keuntungan .
B. Norma dan akhlaq dalam ekonomi Islam :
1. Bercirikan ketuhanan.
Ekonomi Islam bertitik tolak dari Allah SWT dan bertujun akhir kepada Allah SWT, dan menggunakan sarana yang tidak lepas dari syariat Allah SWT.
Akidah adalah landasan utama dalam ekonomi Islam, artinya kegiatan akonomi juga merupakan kegiatan hanya untuk menyembah dan mengagungkan Allah SWT semata, sehingga dalam melakukan kegiatan ekonomi manusia memang harus mewujudkan kesejahteraan, tetapi itu hanya tangga untuk mencapai kehidupan yang lebih tinggi dan kekal di akhirat.
Buah dari sikap ini adalah keimanan sebelum kekuasaan yang menjadikan seseorang akan selalu merasa diawasi oleh yang maha kuasa. Ia tidak rela untuk makan dari makanan yang bukan haknya, memakan dengan cara yang tidak dihalalkan oleh Allah SWT.
Dalam norma Islam harta hanya merupakan titipan (istikhlaf) karena memang pada hakekatnya seluruh makhluk yang diciptakan Allah SWT adalah milik Allah SWT. Manusia hanya menerima titipan yang diberikan Allah SWT dengan berbagai cara.
2. Berlandaskan etika.
Islam tidak memisahkan ekonomi dan etika, sebagaimana tidak memisahkan ilmu dan akhlaq, politik dan etika. Tidak kebebasan tanpa kendali dalam Islam. Oleh karena itu tidak ada kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi yang tidak terikat dengan buhul akidah dan etika mulia, disamping juga dengan hukum-hukum Islam .
3. Bercirikan kemanusiaan.
Sistem ekonomi Islam berkarakter kemanusiaan yang berasal dari ketuhanan. Allah SWT yang memuliakan manusia dan menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Tujuan ketuhanan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari fitrah manusia.
Tujuan ekonomi Islam adalah menciptakan kehidupan yang aman dan sejahtera. Yang dimaksud dengan manusia adalah semua golongan manusia yang sehat dan sakit, yang kuat dan lemah, susah dan senang, serta manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota masyarakat.
Ciri dari kemunusiaan dalam ekonomi Islam adalah dengan menyediakan saran yang baik untuk manusia, baik berupa unsur materi dan unsur spritual .
4. Bersifat pertengahan (keseimbangan)
Islam tidak berlandaskan kapitalis yang berorientasi kepada individualisme sama sekali tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Atau sebaliknya bukan berlandaskan sosialisme yang berorientasi kepada penghilangan setiap hak individu. Asas dalam sistem Islam adalah keseimbangan yang adil, yang terlihat jelas menghormati hak individu dan masyarakat. Kedua hak tersebut diletakkan dalam neraca keseimbangan yang adil (pertengahan) tentang dunia dan akhirat, jiwa dan raga, akal dan hati, perumpamaan dan kenyataan,. Islam juga bersikap ditengah-tengah antara iman dan kekuasaan .
C. Etika Produksi.
1. Memperhatikan sumber daya alam: hewan, tumbuh-tumbuhan, kekayaan laut, kekayaan tambang, matahari dan bulan.
2. Bekerja sendi utama produksi.
Kegiatan produksi ada sejak zaman Nabi Adam AS. Allah SWT menjamin rizki setiap makhluk Sunnatullahnya adalah jaminan tersebut tidak didapat kecuali dengan usaha dan bekerja. Bekerja adalah ibadah dan bahkan bagian dalam jihad.
Tujuan diwajibkannya bekerja adalah:
a. Mencukupi kebutuhan hidup.
b. Kemaslahatan keluarga.
c. Kemaslahatan masyarakat.
d. Hidup untuk kehidupan dan untuk semua yang hidup.
e. Memakmurkan bumi.
f. Bekerja untuk kerja.
Faktor yang mempengaruhi produksi:
a. Ketekunan.
b. Keseimbangan antara ibadah dan bekerja.
c. Ketenangan jiwa.
d. Istiqomah.
e.Menghargai waktu.
3. Produksi dalam lingkaran halal.
4. Perlindungan kekayaan alam.
Larangan-larangan yang terkait perlindungan kekayaan alam:
a. Menelantarkan ladang pertanian dan hewan dari perbuatan syirik (al-an-am:138), (Yunus:59).
b. Iseng membunuh binatang.
c. Menebang hutan secara liar.
d. Melindungi binatang dari penyakit menular.
e. Hati-hati terhadap binatang perah.
f. Mamanfaatkan kulit bangkai binatang.
g. Jangan menyisakan makanan.
h. Menghidupkan tanah tak bertuan (terbengkalai).
5. Perlindungan terhadap hak-hak konsumen.
6. Menegakkan keadilan dan HAM
7. Target produksi yaitu realisasi swasembada bagi perorangan dan umat.
D. Norma dan Etika Konsumsi
a. Nafkah dan Belanja.
1. Menggunakan harta secukupnya.
2. Wajib membelanjakan harta untuk diri sendiri, keluarga dan fisabilillah.
b. Larangan Mubazir
1. Menjauhi hutang.
2. Menjaga aset yang pokok dan mapan.
3. Peringatan terhadap hidup yang bermewah-mewahan.
4. Larangan boros dan menghamburkan harta.
5. Batasan dalam menggunakan harta.
6. Tujuan pembatasan penggunaan harta
a. Pendidikan moral.
b. Pendidikan masyarakat.
c. Pendidikan ekonomi.
d. Pendidikan kesehatan.
e. Pendidikan militer dan politik.
c. Sikap sederhana.
1. Sikap sederhana dalam membelanjakan uang saat krisis.
2. Kebebasan individu dan kemaslahatan orang banyak.
3. Sederhana dalam menggunakan uang negara.
4. Menetapkan hukum di samping bimbingan dan pengarahan.
5. Pemblokiran harta karena alasan masalahat pribadi dan orang lain.
E. Norma dan Etika Sirkulasi.
1. Larangan memperdagangkan barang-barang haram.
2. Bersikap benar, amanah dan jujur.
3. Menegakkan keadilan dan mengharamkan riba dan bunga.
4. Menerapkan kasih sayang dan mengharamkan monopoli.
5. Menegakkan toleransi dan persaudaraan..
6. Menegakkan prinsip bahwa perdagangan adalah bekal menuju akhirat.
F. Norma dan Etika Distribusi
1. Sendi kebebasan.
a. Pengakuan hak milik pribadi, dengan ketentuan-ketentuan:
1. Pengembangan harta harus dilakukan dengan caa-cara yang sesuai dengan syariat Islam.
2. Menunaikan kewajiban-kewajiban Syariat Islam seperti : zakat harta, zakat fitrah, kharaj (pajak), zakart perdagangan, infak fi sabilillah, kewajiban-kewajiban harta kepada negara dan pemerintah.
3. Pungutan harta pribadi harus dengan alasan manfaat umum.
4. Tidak ada pembatasan kepemilikan harta.
5. Jaminan sosial bersama.
6. Larangan penguasaan atas hak pribadi orang lain dengan jalan terlarang.
7. Pembatasan penggunaan harta pada keadaan-keadaan tertentu seperti: pemborosan, pelanggaran-pelanggaran pada ketentuan-ketentuan warisan dan wasiat, penggunaan hak syuf’ah (kerjasama dalam kepemilikan jual beli).
8. Menjaga hak tetangga dan hak irtifaq (sesuatu yang dimanfaatkan bersama) seperti air minum, aliran air dalam kebun atau sawah, kelebihan air, hak jalan, meninggikan bangunan .
b. Pengakuan hak warisan.
c. Pengakuan kepemilikan dari penguasaan barang-barang mubah.
d. Pengakuan kepemilikan dari akad-akad yang sah .
2. Sendi keadilan.
a. Kebebasan mutlak adalah terkutuk.
b. Kebebasan terikat dengan keadilan.
c. Adil bukan selalu pemerataan.
d. Bervariasinya perolehan rezki dan keseimbangan kesempatan adalah suatu keadilan..
e. Pemenuhan hak kaum pekerja.
f. Menumbuhkan solidaritas masyarakat.
g. Mendekatkan kesenjangan antara kaya dan miskin.
G. Norma dan Etika Sosial Organisasi.
1. Pelaku-pelaku organisasi
a. Hubungan perusahaan dan pekerja.
b. Hubungan pekerja dan perusahaan.
c. Hubungan perusahaan dan pelaku usaha yang lain .
2. Etika Diskriminasi Pekerjaaan.
a. Sifat diskriminasi pekerjaan.
b. Tingkat diskriminasi.
c. Diskriminasi: utilitas, hak, dan keadilan .
3. Hukuman dan pengampunan atas perilaku tidak etis.
a. Tidak ada paksaan dalam tindakan etis.
b. Filsafat hukuman dalam Islam .
G. Bisnis Terlarang.
Materi :
1. Pengertian
2. Etika dan ekonomi.
3. Al-Quran dan budaya kerja
4. Harta dalam pandangan Islam.
– Hakekat kekayaan.
– Kepemilikan
5. Konsep bisnis dalam Islam.
6. Bisnis yang terlarang.
7. Implementasi etika Islam dalam berbisnis.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s