Wirausaha Muda

Economy – Analisa Ekonomi

PEKAN ini Bank Mandiri kembali menggelar pemilihan wirausahawan muda asal kampus. Seperti nuansa tahun lalu, saya selalu terkagumkagum melihat anak-anak muda penuh gairah yang menatap hari esok dengan penuh semangat.

Mereka memulai usaha dari dapur rumah atau garasi, dengan modal seadanya dan income yang belum seberapa. Sementara itu, di tengah-tengah diskusi para pengajar kewirausahaan selalu muncul pertanyaan yang sangat mengganggu. Fakta yang tak terbantahkan, banyak mahasiswa penerima modal usaha bantuan pemerintah yang mengambil kelas kewirausahaan, setelah mencoba, ternyata bisnisnya gagal. Seorang pengajar mengeluhkan, ”Setelah modalnya diambil, begitu lulus mereka justru melamar kerja.” Padahal di luar sana harapan besar terhadap kalangan terdidik agar mau membuka usaha dan tidak mencari pekerjaan begitu besar. Apa yang tengah terjadi?
What If I Fail?

Masih banyak orang yang berpikir menjadi wirausaha itu sama seperti menjadi seorang dokter, akuntan, pengacara (lawyer), kriminolog, arsitek, atau engineer.

Profesi-profesi yang saya sebut itu adalah profesi yang dibentuk melalui basis pendidikan. Kalau seseorang tekun belajar dan berhasil menyelesaikan studi, berapa pun nilai (skor) ijazahnya, asalkan lulus, mereka otomatis menyandang gelar dokter, sarjana hukum, atau insinyur dan berhak praktik.

Namun wirausaha itu dunia yang berbeda. Orang tidak secara otomatis mampu menjadi pengusaha, sekalipun ia telah lulus dari sebuah universitas, mengambil kelas kewirausahaan atau mendengarkan ceramah-ceramah wirausaha. Kewirausahaan adalah sebuah proses yang terbentuk melalui langkah-langkah riil yang membutuhkan waktu.

Seorang bisa membuat sebuah produk, tapi belum tentu dapat memasarkannya, apalagi memperoleh keberlangsungan usaha secara konsisten. Kalau kepercayaan sudah didapat dari pasar, belum tentu seseorang tekun memelihara dan menjaganya. Selanjutnya, sebuah usaha yang berhasil belum tentu bertahan menghadapi seranganserangan para pemain lama dan para pendatang baru.

Dengan kata lain, ada banyak faktor yang perlu “dijinakkan” dan “dikuasai” untuk menjadikan seseorang pengusaha sejati. Selain kewirausahaan, masih diperlukan profesionalisme manajerial, pengetahuan tentang berusaha, dan tentu saja leadership. Oleh karena itu saya kira terlalu naif bila kita mengharapkan para sarjana langsung sukses dengan usaha yang baru dimulainya. Namun kalau mereka tidak pernah memulainya, mereka tidak pernah belajar dan sampai ke tujuannya. Dengan demikian, pertanyaan seperti “What if I fail?” adalah pertanyaan yang normal.

Jawabnya sederhana saja, “Ya bangkit saja lagi,mulai lagi.” Mendengar jawaban itu banyak orang yang tidak puas.“Saya sudah capek Pak!,”atau, “Jatuhnya keras lho Pak, ruginya sampai puluhan juta.” Selain “what if I fail?” mereka juga sering mengeluhkan, kegagalan yang dialami, terutama bersumber dari faktorfaktor eksternal seperti ditipu teman atau karyawan, gempa bumi, dan seterusnya.

Salah Sendiri

Di Rumah Perubahan kami biasa mendiskusikan berbagai kasus dan best practice yang dialami sejumlah tokoh. Kami mendokumentasikan kejadiankejadian itu dan mempelajari dengan penuh kesungguhan untuk menghasilkan usahawan-usahawan baru yang modern dan tangguh. Kami mempelajari bagaimana anak-anak muda Indonesia tampil menjadi usahawan sejati, dan membuka-buka dokumen yang dialami tokoh-tokoh dunia.

Salah satu serial film yang sangat disukai para calon entrepreneur adalah kisah takeover yang dilakukan hairdresser terkemuka. Hairdresser ini memiliki banyak pelanggan dan salonnya sangat terkenal. Namun lebih dari itu, dia memiliki kemampuan mendeteksi persoalan-persoalan yang dihadapi para pemilik salon yang gagal. Maka program televisinya sangat diminati para pemilik salon dan mereka mengundangnya untuk memperbaikinya. Begitu salon tersebut disetujui untuk diperbaiki, Tabatha, nama pemilik salon itu, segera melakukan analisis dan takeover.

Dia pasang kamera pengintai di depan resepsionis,kasir, ruang kerja hairdresser, pencuci rambut, dan seterusnya. Dia juga turun langsung ke lapangan, berbicara dengan seluruh kemampuan kepada pelanggan, melihat proses kerja, dan melakukan pekerjaan seperti biasanya. Yang menarik perhatian saya, hampir semua serial dan kasus yang berbeda-beda itu selalu bermuara pada masalah yang kurang lebih sama,yaitu kegagalan selalu bersumber dari perilaku atau cara kerja entrepreneur atau owner sendiri. Jadi bukan karyawan, manajer, atau konsumen, melainkan kita sendirilah sumber dari masalah itu.

Ada owner yang tidak bisa membedakan antara usaha dan gaya hidup, ada owner yang terlalu akademis, sehingga dibuatlah SOP-SOP (manual) yang sangat kaku,ada kebiasaan-kebiasaan buruk yang dibiarkan, dan seterusnya. Singkatnya, kegagalan usaha ternyata lebih disebabkan faktor entrepreneur yang kurang disiplin, kurang cool, kurang tangkas, kurang bersemangat, dan seterusnya. Menjadikan bagaimana anakanak muda mulai berusaha menemukan cara yang tepat untuk mengelola usaha, membuang mental blockages, adalah sebuah proses yang menarik. Anak-anak muda itu hanya bisa berhasil kalau mereka benar-benar berperilaku seperti layaknya pengusaha dan menemukan usaha yang benar-benar mereka sukai.

Dengan demikian, menjadi pengusaha itu membutuhkan waktu, latihan,dan contoh.Bersabarlah sampai faktor “X” yang Anda miliki berubah menjadi “X” yang besar, yang memiliki daya magis yang kuat. Itulah saatnya dunia menjadi milik Anda. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
(//rhs)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s